Teman-temanku para Calon Guru. Berikut Artikel bagus untuk disimak yang dapat dijadikan bekal ketika kelak sudah prakti menjadi Guru
Salam dari Guru yang ingin dirindu
Imron A Hakim
Cara Mudah Mengusir Malas
August 31, 2009 by admin
Filed under Writer Schoolen
Oleh: Kevin Jordy
“Kev, cepet belajar! Dari tadi buka facebook terus! Kamu itu kalau gak di suruh ga mau gerak, harus punya inisiatif dong kalau jadi orang!”, begitulah kalau keasikan main. Rasanya kalau udah main malesss banget .
Kalau saya pikir-pikir kayaknya kalau males itu diilangin pasti setiap orang bisa jadi hebat banget. Banyak orang ,termasuk saya hehehe tau kalau belajar itu bagus, bisa bikin kita pinter, kalau pinter di puji orang tua, akhirnya bisa dapet uang jajan lebih banyak hehehe… Kita tau, semua orang juga tau, tapi kok yang sukses cuma sedikit ya?! Ya karena terhalang males ini! Dan kayaknya males ini kok gak ada obatnya ya?? Bahkan waktu menulis artikel ini pun saya MALES!
Padahal akibat dari males pun kita tau, kita jadi nunda-nunda kerjaan dan akhirnya kalau PR dah numpuk kita bilang, “Gak ada waktu nih … Gurunya nyebelin kasih tugas kok gak kira-kira.” Padahal si guru udah ngasih tugas dari 2 minggu yang lalu. Jadilah kita cari alasan dan membuat excuses! Dan pada saat itu akhirnya kita tergerak buat ngerjain PR karena biasanya deadlinenya udah deket dan temen temen kita udah pada kelar ngerjain tugasnya!
Pada saat itu biasanya kita buatnya asal-asalan dan yang lebih parah lagi karena udah panik kita buru-buru nyalin PR temen!
Nah, dari pada kita “nunggu” perasaan takut itu dateng, trus kita baru termotivasi buat ngerjain PR, mendingan kita buat duluan aja perasaan takut itu. So, kita langsung bisa take action! Lah, gimana caranya?
Kalau kita mau menciptakan rasa takut itu, kita harus membayangkan dengan sangat dramatis dan seolah-olah benar benar terjadi. Ingat kita adalah makhluk emosi, jadi sebenernya otak kita gak ngenalin mana yang nyata atau hanya “bayangan” aja.
Yuk, sekarang coba kita bayangkan apa yang nani bakal terjadi kalo kita masih terus nunda-nunda pekerjaan kita, bayangin kalo kita males-malesan terus akhirnya nilai ulangan kita gak ada yang lulus! Bayangkan kita dimarahin guru-guru dan ortu, trus pada hari libur kita gak boleh kemana-mana! Cuma di kurung di kamar dan harus belajar, ditambah lagi kita gak dikasih uang jajan selama sebulan penuh! Bayangkan itu semua secara dramatis dengan penuh emosi!
Wah… serem banget kan? Trus kalau mau lebih serem lagi, bayangkan apa yang akan terjadi 5 tahun lagi kalau kamu masih nunda-nunda pekerjaan kamu! Bayangkan kamu gak lulus kuliah dan gak dapet pekerjaan! Utang sana-sini!
Wah … tambah ngeri lagi nih! Kalau temen-temen udah ngebayangin yang jelek-jelek secara dramatis, sekarang kita mau ngebayangin hal-hal yang positif!
Bayangkan apa yang akan terjadi kalau kita gak nunda nunda kerjaan atau PR kita. Bayangkan kita dipuji guru-guru dan ortu. Bayangkan kamu disukai semua temen-temen kita. Bayangkan kita dapat uang jajan tambahan! Pokoknya bayangkan kesuksesaan temen temen kalo gak lagi nunda-nunda kerjaan.
Inget ya, waktu ngebayangin sesuatu temen temen harus kasih emosi. Perjelas bayangan kita, lalu perjelas juga suaranya, rasakan suasananya. Bayangkan juga dimana tempatnya secara detail.
Temen temen inget motto ini, “No Action Nothing Happen, If you take action Miracle happen!” Pak Einstein juga ngomong, ”Bila ingin hasilnya berbeda tetapi tindakannya tetap sama, adalah definisi dari orang gila!”
Cara lain untung mengubah kita yang malas menjadi rajin yaitu dengan merubah fokus.
Temen saya, Brian yang dulunya males-malesan belajar terus yang ulangannya agak jelek, tiba-tiba kok nyamperin gua buat ngerjain PR sama sama, terus jauh jauh hari sebelum ulangan Mat udah minta ajarin saya. Saya kaget juga ketemu ketemu ternyata dia mau cari muka di depan cewek yang dia suka.. Ooooo jadi ngerti saya sekarang! Kalu dia bisa ngerjain PR dia bisa ngakarin sekalian Pedekate.. hehehe^^
Nah, si Brian itu tanpa dia sadar telah nerapin jurus merubah fokus ini.
Biar lebih jelas lagi gimana caranya ngerubah fokus, nih salah satu caranya: Merubah gerak.
Merubah gerak itu maksudnya merubah kebiasaan yang sifatnya jasmani kayak kebiasaan duduk kita misalnya. Nanti akan kita rubah dari kebiasaan yang kurang memotivasi kita menjadi kebiasaan yang bikin kita lebih semangat!
Supaya lebih jelas lagi kita buktiin sendiri yuk! Inget kalau kita berpartisipas ilmunya lebih cepet nangkep loh!
Test 1: Coba temen temen duduk seperti biasa ketika temen temen sedang bersantai.
Nah sekarang temen temen lakukan Test 2
Test 2: Sekarang coba kita duduk dengan tegak, dada dibusungkan ,tarik nafas dalam dalam … buang ….. fuhhhhhhh….. Lalu cobalah tersenyum tanpa alasan..:D
Ketauan bedanya kan? Perasaan kita jadi jauh lebih enak dan fresh!
Tentunya temen temen ngerasain perbedaanya kan?? Jadi pasti temen temen udah ngerti gimana gerak memengaruhi perasaan dan mood kita??
Saya masih inget waktu saya lagi gak mood banget ngerjain tugas, rasanya capek banget, tapi seketika moodnya berubah loh akibat dari “Guncang bumi” yang di ajarkan Pak Tung secara gak langsung lewat VCD seminarnya. Terus terang walaupun pertama saya pikir ini agak aneh, tapi begitu dipraktikkan sangat dasyat!
Nih ada PR buat temen temen! Hehehe ini PR gampang kok.. Temen temen tulis sendiri 30 cara untuk memotivasi diri lewat gerakan, saya sendiri udah nemuin lebih dari 50 cara loh. Contohnya ya, tarik nafas dalam dalam (jangan lupa di hembuskan ya!hehehe), tersenyum tanpa alasan (jangan dilakukan di depan orang-orang!XD), melihat pemandangan, ngulet, dll, pokoknya yang bisa membuat kita ngerasa lebih baik!
PS: Tips ini tidak hanya untuk pelajar seperti saya , tetapi untuk semua orang! (Hanya tinggal disesuaikan sesuai kondisi saja)
Semoga tips ini bermanfaat.
*) Kevin Jordy, Alumnus Workshop Menulis Buku Best-Seller batch 11 ini adalah anak SMA kelas 1 (usia 15 tahun) di China Hongkong English School, China. Dapat dihubungi langsung di kevinjordy94@yahoo.com.
Guru yang Dirindu
Jika anda guru apakah merasa dirindukan oleh murid; Jika anda dosen apakah dirindukan oleh mahasiswa? Jika kita masih menyaksikan reaksi siswa yang senang gembira ketika guru/dosen tidak hadir utk mengajar...itu pertanda guru/dosen tidak dirindukan oleh murid/mahasiswanya...
13 November 2009
09 Januari 2009
SOMBONG
Saudaraku, peminat blog imronahakim.
Dalam pergauan sehari-hari, seringkali kita jumpai seseorang yang merasa diri lebih dari yang lain, bahkan kita sendiri juga pernah terhinggapi perasaan yang disebut sebagai “sombong”. Tapi, mengapa kita harus sombong? Bukankah kesombongan dapat melukai perasaa orang lain dan menutup dari Berkat dan Rahmat Allah Swt?. Sebab yang pantas sombong adalah HANYA ALLAH YANG MAHA SEGALANYA. Kita sebagai manusia tidak ada apa-apanya kalau tidak diperkenankan oleh-Nya. Berikut saya sisipkan tiga ulasan tentang kesombongan yang bersumber dari milis Money Magnet untuk kita renungkan dan untuk tidak menjadi sombong dengan kondisi yang ada pada diri kita. Semoga bermanfaat.
Salam hangat,
Imron A Hakim
Apa yang kita sombongkan ?
Minggu, 7 September, 2008 08:16
Dari: "Adi W. Gunawan"
Kepada: money_magnet@yahoogroups.com
Apa yang kita sombongkan ?
Jumat, 5 September, 2008 14:00
Dari: "Eliana Widijansih"
Kepada: money_magnet@yahoogroups.com
Ada artikel bagus, semoga bermanfaat.
Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras.
Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?" Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.
Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain. Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya.
Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita. Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati.
Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam.
Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan ?
Sumber : Internet bebas
Sabtu, 6 September, 2008 06:31
Dari: "Johansyah S Arifin"
Kepada: money_magnet@yahoogroups.com
Terima kasih mbak Eliana, artikel yang sangat bermanfaat. Mengingatkan kita untuk selalu menjaga hati dari godaan-godaan ke "ego" an kita. Saya jadi teringat sebuah nasehat guru ngaji saya, dimana beliau mengatakan bahwa untuk menggoda manusia, misalnya dalam melaksanakan kegiatan ibadah ritualnya sehari-hari, maka setan akan menjalankan tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Langkah pertama yang akan dilakukan adalah dia (setan) akan mengajak kita untuk tidak sama sekali melakukan ibadah ritual tersebut. Misalnya dalam agama saya, kita diajak untuk tidak melaksanakan shalat 5 waktu sama sekali.
2. Kalau langkah ini tidak berhasil, maka dia akan menggoda kita untuk bolong-bolong menjalankan shalat ini. Dengan memunculkan berbagai kendala sebagai alasannya, sehingga kita melaksanakan shalat hanya 4 kali, 3 kali bahkan mungkin hanya 1 kali saja sehari.
3. Kalau tidak berhasil juga, maka dia akan selalu berusaha untuk membuat shalat kita tidak Khusyu' (tidak fokus). Sehingga fisik kita shalat, tapi pikiran kita kemana-mana
4. Kalau masih tidak berhasil, maka langkah terakhir yang dilakukan adalah dia akan membantu kita agar dapat melaksanakan ibadah dengan sangat baik (misalnya kalau dalam contoh ibadah shalat ini, kita tidak hanya melaksanakan shalat wajib tapi juga yang sunnah), tapi sambil menghembuskan hasutan-hasutan rasa bangga dalam diri kita yang akan berujung ke rasa Sombong (seperti yang ada dalam artikelnya mbak Eliana). Dimana kita merasa sudah menjadi orang yang sangat saleh dan merasa benar, sehingga kadang-kadang kita menyalahkan bahkan meremehkan orang lain yang kita anggap kualitas ibadahnya tidak sama dengan kita.
Semoga kita dijauhkan dari perangkap "ego" kesombongan ini. Namun marilah kita tetap berkarya dan tetap berkontribusi dalam upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik lagi, sehingga makin banyak orang yang akan berbahagia di bumi ini, sambil senatiasa memohon kepada Tuhan, semoga selalu menjaga ketulusan & kelurusan niat kita ini. Amiiiiinnnnn ................
PS. : Wahhhh, jadi kaya khotbah yaaa.... beribu-ribu sorry dehhh....
Salam berkelimpahan,
Johan S Arifin
Hi Alls,
Mumpung lagi membahas soal kesombongan saya ingin sedikit menambahkan. Ada lima faktor penyebab kesombongan.
1. Harta (segala sesuatu yang berhubungan dengan kepemilikan)
2. Jabatan (posisi)
3. Usia (orang yang sudah tua merasa sudah banyak makan asam garam kehidupan)
4. Fisik (orang cantik, ganteng)
5. Pengetahuan (pintar, cerdas)
Semakin tinggi kita di setiap level di atas, misal semakin kaya, semakin tinggi jabatan, semakin tua, semakin cantik/gagah, dan semakin pintar maka perangkap kesombongan akan semakin kuat dan halus (garis bawaw dari imronahakim.
Salam,
Adi W Gunawan
Dalam pergauan sehari-hari, seringkali kita jumpai seseorang yang merasa diri lebih dari yang lain, bahkan kita sendiri juga pernah terhinggapi perasaan yang disebut sebagai “sombong”. Tapi, mengapa kita harus sombong? Bukankah kesombongan dapat melukai perasaa orang lain dan menutup dari Berkat dan Rahmat Allah Swt?. Sebab yang pantas sombong adalah HANYA ALLAH YANG MAHA SEGALANYA. Kita sebagai manusia tidak ada apa-apanya kalau tidak diperkenankan oleh-Nya. Berikut saya sisipkan tiga ulasan tentang kesombongan yang bersumber dari milis Money Magnet untuk kita renungkan dan untuk tidak menjadi sombong dengan kondisi yang ada pada diri kita. Semoga bermanfaat.
Salam hangat,
Imron A Hakim
Apa yang kita sombongkan ?
Minggu, 7 September, 2008 08:16
Dari: "Adi W. Gunawan"
Kepada: money_magnet@yahoogroups.com
Apa yang kita sombongkan ?
Jumat, 5 September, 2008 14:00
Dari: "Eliana Widijansih"
Kepada: money_magnet@yahoogroups.com
Ada artikel bagus, semoga bermanfaat.
Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras.
Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?" Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.
Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain. Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya.
Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita. Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati.
Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam.
Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan ?
Sumber : Internet bebas
Sabtu, 6 September, 2008 06:31
Dari: "Johansyah S Arifin"
Kepada: money_magnet@yahoogroups.com
Terima kasih mbak Eliana, artikel yang sangat bermanfaat. Mengingatkan kita untuk selalu menjaga hati dari godaan-godaan ke "ego" an kita. Saya jadi teringat sebuah nasehat guru ngaji saya, dimana beliau mengatakan bahwa untuk menggoda manusia, misalnya dalam melaksanakan kegiatan ibadah ritualnya sehari-hari, maka setan akan menjalankan tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Langkah pertama yang akan dilakukan adalah dia (setan) akan mengajak kita untuk tidak sama sekali melakukan ibadah ritual tersebut. Misalnya dalam agama saya, kita diajak untuk tidak melaksanakan shalat 5 waktu sama sekali.
2. Kalau langkah ini tidak berhasil, maka dia akan menggoda kita untuk bolong-bolong menjalankan shalat ini. Dengan memunculkan berbagai kendala sebagai alasannya, sehingga kita melaksanakan shalat hanya 4 kali, 3 kali bahkan mungkin hanya 1 kali saja sehari.
3. Kalau tidak berhasil juga, maka dia akan selalu berusaha untuk membuat shalat kita tidak Khusyu' (tidak fokus). Sehingga fisik kita shalat, tapi pikiran kita kemana-mana
4. Kalau masih tidak berhasil, maka langkah terakhir yang dilakukan adalah dia akan membantu kita agar dapat melaksanakan ibadah dengan sangat baik (misalnya kalau dalam contoh ibadah shalat ini, kita tidak hanya melaksanakan shalat wajib tapi juga yang sunnah), tapi sambil menghembuskan hasutan-hasutan rasa bangga dalam diri kita yang akan berujung ke rasa Sombong (seperti yang ada dalam artikelnya mbak Eliana). Dimana kita merasa sudah menjadi orang yang sangat saleh dan merasa benar, sehingga kadang-kadang kita menyalahkan bahkan meremehkan orang lain yang kita anggap kualitas ibadahnya tidak sama dengan kita.
Semoga kita dijauhkan dari perangkap "ego" kesombongan ini. Namun marilah kita tetap berkarya dan tetap berkontribusi dalam upaya menciptakan kehidupan yang lebih baik lagi, sehingga makin banyak orang yang akan berbahagia di bumi ini, sambil senatiasa memohon kepada Tuhan, semoga selalu menjaga ketulusan & kelurusan niat kita ini. Amiiiiinnnnn ................
PS. : Wahhhh, jadi kaya khotbah yaaa.... beribu-ribu sorry dehhh....
Salam berkelimpahan,
Johan S Arifin
Hi Alls,
Mumpung lagi membahas soal kesombongan saya ingin sedikit menambahkan. Ada lima faktor penyebab kesombongan.
1. Harta (segala sesuatu yang berhubungan dengan kepemilikan)
2. Jabatan (posisi)
3. Usia (orang yang sudah tua merasa sudah banyak makan asam garam kehidupan)
4. Fisik (orang cantik, ganteng)
5. Pengetahuan (pintar, cerdas)
Semakin tinggi kita di setiap level di atas, misal semakin kaya, semakin tinggi jabatan, semakin tua, semakin cantik/gagah, dan semakin pintar maka perangkap kesombongan akan semakin kuat dan halus (garis bawaw dari imronahakim.
Salam,
Adi W Gunawan
Langganan:
Postingan (Atom)